BETON MUTU TINGGI
A. PENDAHULUAN
Beton
merupakan salah satu bahan bangunan yang pada saat ini banyak dipakai di
Indonesia dalam bangunan fisik. Karena sifatnya yang unik maka diperlukan
pengetahuan yang cukup luas, antara lain mengenai sifat bahan dasarnya, cara
pembuatannya, cara evaluasinya dan variasi bahan tambahnya. Selain itu, beton
juga dikenal sebagai material dengan kekuatan tekan yang memadai, mudah
dibentuk, mudah diproduksi secara lokal, relatif kaku, dan ekonomis. Tapi di
sisi lain, beton juga menunjukan banyak keterbatasan baik dalam proses produksi
maupun sifat-sifat mekaniknya, sehingga beton pada umunya hanya digunakan untuk
konstruksi dengan ukuran kecil dan menengah.
Namun sejak dua dekade
terakhir ini, setelah berhasil dikembangkannya berbagai jenis tambahan atau admixtures
dan additives untuk campuran beton, terutama water reducer atau
plasticizer dan superplastisizer, maka telah terjadi kemajuan
yang sangat pesat pada teknologi beton, dengan berhasil memproduksi beton mutu
tinggi bahkan sangat tinggi, dan yang pada akhirnya juga telah memperbaiki dan
meningkatkan hampir semua kinerja beton menjadi suatu material modern yang
berkinerja tinngi.
Sesuai dengan
perkembangan teknologi beton yang demikian pesat, ternyata kriteria beton mutu
tinggi juga selalu berubah sesuai dengan kemajuan tingkat mutu yang berhasil
dicapai. Pada tahun 1950an, beton dengan kuat tekan 30 MPa sudah dikategorikan
sebagai beton mutu tinggi. Pada tahun 1960an hingga awal 1970an, kriterianya
lebih lazim menjadi 40 MPa. Saat ini, disebut mutu tinggi untuk kuat tekan
diatas 50 MPa, dan 80 MPa sebagai beton mutu sangat tinggi, sedangkan 120 MPa
bisa dikategorikan sebagai beton bermutu ultra tinggi (Supartono 1998).
Di
beberapa negara maju sudah sejak lama beton mutu tinggi berhasil diproduksi
untuk pekerjaan-pekerjaan khusus. Di Jepang
untuk panel cangkang beton pracetak pada sebuah terowongan kereta api, di USA untuk keperluan militer, dan di Eropa untuk struktur jembatan
berbentang panjang. Tidak hanya itu, sekarangpun telah digunakan untuk struktur
gedung bertingkat tinggi. Di
Indonesia beton mutu tinggi dengan kuat tekan rata-rata sebesar 85 MPa baru dapat dibuat di laboratorium pada tahun 1990, dengan bahan tambah superplastisizer
dengan nilai slump mencapai 15 cm. Perkembangan teknologi dalam bidang konstruksi di Indonesia terus
menerus mengalami peningkatan, hal ini tidak lepas dari tuntutan dan kebutuhan
masyarakat terhadap fasilitas infrastruktur yang semakin maju, seperti jembatan
dengan bentang panjang dan lebar, bangunan gedung bertingkat tinggi (terutama
untuk kolom dan beton pracetak), dan fasilitas lain.
Perencananaan
fasilitas-fasilitas tersebut mengarah kepada digunakannya beton mutu tinggi,
dimana mencakup kekuatan, ketahanan (keawetan), masa layan dan effisiensi.
Dengan beton mutu tinggi dimensi dari struktur dapat diperkecil sehingga berat
struktur menjadi lebih ringan, hal tersebut menyebabkan beban yang diterima
pondasi secara keseluruhan menjadi lebih kecil pula, jika ditinjau dari segi
ekonomi hal tersebut tentu akan lebih menguntungkan. Disamping itu untuk
bangunan bertingkat tinggi dengan semakin kecilnya dimensi struktur kolom
pemanfaatan ruangan akan semakin maksimal. Porositas yang dihasilkan beton mutu
tinggi juga lebih rapat, sehingga akan menghasilkan beton yang relatif lebih
awet dan tahan sulfat karena tidak dapat ditembus oleh air dan zat perusak
beton. Oleh sebab itu penggunaan beton bermutu tinggi tidak dapat dihindarkan
dalam perencanaan dan perancangan struktur bangunan.
B. PENGERTIAN BETON MUTU TINGGI
Beton mutu tinggi (Hight Strength Concrete) adalah campuran
beton dengan berat agregat normal yang memiliki kuat tekan rata-rata diatas 40
Mpa (Mehta &
Monteiro 1993). ACI Committee 363 (1992) mendefinisikan beton mutu tinggi mempunyai nilai kuat tekan 41 MPa atau lebih. Sesuai dengan perkembangan
teknologi beton, kriteria beton mutu tinggi juga selalu berubah sesuai dengan
kemajuan tingkat mutu yang berhasil dicapai. Pada tahun 1950an, beton dengan
kuat tekan 30 MPa sudah dikategorikan sebagai beton mutu tinggi. Pada tahun
1960an hingga awal 1970an, kriterianya lebih lazim menjadi 40 MPa. Saat ini,
disebut mutu tinggi untuk kuat tekan diatas 50 MPa, dan 80 MPa sebagai beton
mutu sangat tinggi, sedangkan 120 MPa bisa dikategorikan sebagai beton bermutu
ultra tinggi (Supartono 1998).
Pada
umumnya material beton mutu tinggi adalah sama dengan beton normal dengan nilai
porositas beton yang terjadi adalah cukup kecil sehingga didapatkan tingkat
kepadatan yang cukup tinggi. Nilai porositas beton ditentukan oleh faktor air
semen (fas) dari pasta. Semakin kecil
fas, maka semakin kecil porositasnya.
Untuk memperkecil porositas beton digunakan mineral tertentu yang berupa mikro
silika / karbon seperti fly ash, slag atau silikafume sebagai campuran. Supaya
beton lebih padat serta untuk membatasi volume rongga dalam beton, dipakai
mineral tertentu untuk campuran seperti superplastisizer,
water reducer, fly ash, slag, atau silika
fume. Kuat tekan beton optimum yang dapat dicapai sebesar 65, 06 MPa dengan kadar siilicafume10%, kadar
superplastisizer 2%, dan slump sebesar 9,20 cm (Pujianto 2010).
C. MATERIAL DAN PROPORSI CAMPURAN
1) Pertimbangan Umum
Ada
beberapa faktor utama yang bisa menentukan keberhasilan pengadaan beton bermutu
tinggi, diantaranya adalah :
a.
Keadaan semen, ialah semen yang digunakan apakah masih baru atau
sudah lama tidak digunakan (sudah terbuka terlalu lama). Untuk semen yang sudah
terlalu lama tidak digunakan tidak baik untuk bahan pembuatan beton, karena
sudah terkontaminasi dengan zat lain yang bisa mempengaruhi kekuatan beton.
b. Faktor
air semen (fas) yang rendah, dicari berdasar jenis semen yang dipakai dan kuat
tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur 28 hari. Faktor air
semen yang rendah, merupakan faktor yang paling menentukan dalam menghasilkan
beton mutu tinggi, dengan tujuan untuk mengurangi seminimal mungkin porositas
beton yang dihasilkan. Dengan demikian semakin besar volume faktor air-semen (fas) semakin rendah kuat tekan betonnya.
Agar beton tidak cepat rusak maka ditetapkan nilai fas maksimum. Beton mutu tinggi umumnya memiliki faktor air semen
yang rendah dengan rentang 0,2-0,35. Semakin rendah fas maka porositas beton
juga cenderung semakin rendah.
c. Kualitas agregat halus
(pasir), berbentuk bulat, tekstur halus, modulus kehalusan butir 2,5 s/d 3,80 pada
umumnya akan menghasilkan beton mutu tinggi (dengan fas yang rendah), kandungan lumpur pada pasir ≤2,5%,
bersih, gradasi yang baik dan teratur (diambil dari sumber yang sama).
d. Kualitas agregat kasar
(batu pecah/krikil);
Porositas rendah
Dari hasil penelitian
menunjukan bahwa porositan rendah akan menghasilkan suatu adukan yang seragam,
dalam arti mempunyai keteraturan atau keseragaman yang baik pada mutu (kuat
tekan) maupun nilai slumpnya. Akan sangat baik bila bisa digunakan
agregat kasar dengan tingkat penyerapan air yang kurang dari 1 %. Bila tidak,
hal ini bisa menimbulkan kesulitan dalam mengontrol kadar air total pada beton
segar. Kadar lumpur untuk agregat kasar sebesar 1%.
Bentuk fisik agregat
Dari beberapa penelitian
menunjukan bahwa batu pecah dengan bentuk yang tajam ternyata menghasilkan mutu
beton yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan kerikil bulat. Hal ini
tidak lain adalah karena bentuk yang tajam bisa memberikan daya lekat mekanik
yang lebih baik antara batuan dan mortar. Untuk agregat kasar tidak boleh mengandung butiran-butiran yang pipih dan
panjang lebih dari 20% dari berat keseluruhan.
Ukuran maksimum agregat
Dari beberapa penelitian
menunjukan bahwa pemakian agregat yang lebih kecil (< 15 mm) bisa
menghasilkan mutu beton yang lebih tinggi. Namun pemakaian agregat kasar dengan
ukuran maksimum 25 mm masih menunjukan tingkat keberhasilan yang baik dalam
produksi beton mutu tinggi.
Bersih dan kuat tekan hancur yang tinggi
Gradasi yang baik dan teratur (diambil dari sumber
yang sama)
e.
Penggunaan admixture dan
aditif mineral dalam kadar yang tepat, adalah bahan atau zat kimia yang ditambahkan di
dalam adukan beton pada tahap mula-mula sewaktu beton masih segar. Tujuan
penggunaan bahan tambah untuk beton (admixture)
secara umum adalah untuk memperoleh sifat-sifat beton yang diinginkan,
sesuai dengan tujuan/keperluannya. Sifat-sifat beton yang dapat diperbaiki
antara lain: memperbaiki kelecakan beton segar, mengatur faktor air semen pada
beton segar, mengurangi penggunaan semen, mencegah terjadinya segregasi dan
bleeding, mengatur waktu pengikatan aduk beton, meningkatkan kuat desak beton
keras, meningkatkan sifat kedap air pada beton keras, meningkatkan sifat tahan
lama pada beton keras (lebih awet atau tahan lama dengan tahan terhadap
pengaruh zat kimia, tahan terhadap gesekan dan sebagainya)
f.
Prosedur yang benar dan
cermat pada keseluruhan proses produksi beton. Untuk menghasilkan beton bermutu tinggi maka dibutuhkan prosedur yang
benar dan cermat pada keseluruhan proses produksi beton yang meliputi :
pengujian agregat, pengadukan, pengangkutan, pengecoran, dan
perawatan.
g.
Pengawasan dan
pengendalian yang ketat pada keseluruhan prosedur dan mutu pelaksanaan.
(ASTM 1995; ASTM 1985)
2) Konsep Campuran
Penggunakan beton mutu tinggi sebagai elemen suatu konstruksi harus mempertimbangkan proporsi campuran yang akan digunakan. Pada dasarnya bahan beton untuk beton mutu tinggi hampir sama dengan beton normal, yakni pasta (semen), agregat kasar (batu pecah), agregat halus (pasir) dan air. Akan tetapi untuk memudahkan pengerjaan, membatasi jumlah volume rongga yang akan mempengaruhi kekuatan suatu beton tersebut. Maka digunakan bahan kimia tambahan dan bahan mineral tambahan tertentu dalam campuran beton, seperti Superplastisizer (SP)/water reducer, fly ash (abu terbang), dan silica fume ( mikrosilika).3) Fly Ash
Abu terbang atau fly ash
adalah hasil sampingan dari pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga
uap. Dapat digunakan sebagai bahan campuran untuk semen karena kandungan
mineralnya hampir sama dengan semen. Fly ash juga dapat digunakan
sebagai pengganti semen. Beberapa
keuntungan penggunaan Fly Ash yaitu :
a. Mengurangi keberadaan unsur kalsium-hidroksida di dalam beton, yang merupakan bagian yang lemah pada beton, serta
menggantikannya setelah bereaksi dengan SiO2 menjadi kalsium-silikat-hidrat ( CSH gel ) yang selanjutnya memberikan peningkatan kekuatan
beton.
b. Pozzolan yang
berbutir halus akan mengisi pori-pori sehingga porositasnya menjadi rendah.
pengujian SEM memperlihatkan bahwa rongga pada benda uji dengan menggunakan
campuran fly ash lebih kecil dibandingkan dengan beton biasa tanpa fly
ash (Kurniawandy
et al. 2011).
c. Pengurangan kalsium-hidroksida oleh SiO2 akan mengurangi sensitivitas terhadap ketahan sulfat yang
juga didukung oleh meningkatnya kerapatan beton yang pada akhirnya akan
meningkatkan kekedapan terhadap air.
4) Superplastisizer
Beton berkekuatan tinggi
dapat dihasilkan dengan pengurangan kadar air, akibat pengurangan kadar air
akan membuat campuran lebih padat sehingga pemakaian Superplastisizer sangat
diperlukan untuk mempertahankan nilai slump yang tinggi. Beberapa jenis superplastisizer terbuat dari sulfonat
organik yang dapat mengurangi banyak air pada campuran beton, tetapi dapat
menambah nilai slump. Dosis yang disarankan 1 – 2% dari berat semen,
tetapidosis yang berlebihan dapat mengurangi kekuatan beton (Nawy 2010). Keistimewaan penggunaan superplastisizer dalam campuran pasta semen maupun campuran beton
antara lain:
a. Menjaga kandungan air dan semen tetap konstan
sehingga didapatkan campuran dengan workability tinggi.
b. Mengurangi jumlah air dan menjaga kandungan semen
dengan kemampuan kerjanya tetap sama serta menghasilkan faktor air semen yang
lebih rendah dengan kekuatan yang lebih besar.
c. Mengurangi kandungan air dan semen dengan faktor
air semen yang konstan tetapi meningkatkan kemampuan kerjanya sehingga
menghasilkan beton dengan kekuatan yang sama tetapi menggunakan semen lebih
sedikit.
d. Tidak ada udara yang masuk. Penambahan 1% udara kedalam
beton dapat menyebabkan pengurangan strength rata-rata 6%. Untuk memperoleh
kekuatan yang tinggi, diharapkan dapat menjaga ”air content” didalam
beton serendah mungkin.
e Penggunaan superplastisizer
menyebabkan sedikit bahkan tidak ada udara masuk kedalam beton.
f. Tidak adanya pengaruh
korosi terhadap tulangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar